Hakikat dan Keutamaan Ibadah

Posted on September 22, 2011 by aqil.
Categories: makalah2 kueren banget.

HAKIKAT DAN KEUTAMAAN IBADAH
Makalah
Diajukan Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
”Hadith”

Oleh:
Akhyat Hilmi
NIM. D05209053

Dosen pembibing:
M. Hanafi, M.Ag.MA

FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2010

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,puji syukur kehadirat Allah swt. Yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas Hadith tentang “Hakikat Dan Keutamaan Ibadah”.
Disamping itu penyusun makalah ini berguna sebagai media penambah pengetahuan dan pembuka wawasan pembaca, serta untuk mengetahui lebih dalam tentang hakikat ibadah. Makalah ini kami selesaikan tentunya tidak lepas dari bantuan dan dukunga dari berbagai pihak. Kami selaku penyusun makalah menyampaikan terima kasih pada yang terhormat :
1. M. Hanafi, M.Ag.MA selaku dosen pembimbing.
2. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Tarbiyah yang telah memberikan pengetahuan.
3. Semua pihak yang telah membantu atas terselesainya makalah ini.
Akhirnya, semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca secara umum dan khususnya bagi penyusun sendiri. Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah selanjutnya.

Surabaya,22 November 2010

Penyusun

DAFTAR ISI

COVER i
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan 1
BAB II PEMBAHASAN 2
A. Hakikat dan Pengertian Ibadah 2
B. Macam-macam Ibadah 3
C. Tujuan Ibadah 7
D. Keutamaan Ibadah 8

BAB III PENUTUP 12
A. Kesimpulan 12
B. Kritik Saran……………………………………………………………….13
REFERENSI…………………………………………………………………………………………….14

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dari sejak dulu sampai sekarang kita sebagai muslim tentu saja mengetahui akan kewajiban kita, dan banyak yang mengartikan dan mengetahui bahwa kewajiban kita didunia yakni hanya untuk beribadah.
Pemikiran seperti itu memang tidak salah karena sudah tertulis dalam alkitab, akan tetapi bagaimana dengan orang islam yang hanya ikut-ikutan dan belum paham betul akan islam.
Bahkan yang lebih parahnya lagi kita sebagai Hambah-Nya tidak mengetahui tujuan kita beribadah serta hikmah ibadh itu sendiri.
B. MAKSUD DAN TUJUAN
1. Menjelaskan arti ibadah perspektif dari berbagai perspeksi
2. Menjelaskan tujuan ibadah dalam islam
3. Menjelaskan hikmah ibadah

C. RUMUSAN MASALAH
1. Apa Arti ibadah dan macamnya?
2. Apa tujuan dari ibadah itu sendiri dalam islam?
3. Adakah hikmah dibalik ibadah itu sendiri?

BAB II
PEMBAHASAN

A. HAKIKAT DAN PENGERTIAN IBADAH
1) Definisi dan Macam Ibadah menurut bahasa (Etimology).
Didalam Al-Qamus Al muhith disebutkan: Al-abdiyah, al-ubudiyah, dan al-ibadaah, artinya: taat (tunduk),
Di dalam Mukhtarus-Shihah, disebutkan: Bahwa asal kata al-ubuudiyah artinya : tunduk dan merendah. Sedangkan al-ibaadah artinya : taat atau patuh. Dan at-ta’abbud artinya: at-tanassuk (melakukan pengabdian). Jadi, perubahan makna-makna itu sesuai dengan perubahan kata bakunya. (Dalam ilmu bahasa arab terkenal dengan Isytiqaaq)
Dalam ungkapan Fadkhulii fii ‘ibaadii”,kata ‘ibaadii disini berarti golongan. jadi, arti lengkap dari ungkapan tersebut : Masuklah ke dalam golonganku, yaitu orang-orang yang mengabdi kepadaku. Disini kata ‘ibaadii, sudah ditunjukan kepada arti baru, yaitu: penghambaan, penagbdian.
Di dalam Al-Mukhashshash,juz XIII, halaman 96, disebutkan:Asal kata ‘ibadah berarti: merendahkan diri. Dan dari sinilah timbulnya kata’abdun (hamba), karena adanya sikap merendahkan diri kepada tuannya.
Kata ‘ibaadaah,khudlu’,tadzallul dan Istikaanah, kesemuanya mempunyai makna yang hampir bersamaan .
Arti Ibadah yaitu penyembahan seseorang hamba terhadap Tuhannya yang dilakukan dengan merendahkan diri serendah-rendahnya, dengan hati yang ikhlas menurut cara-cara yang ditentukan oleh agama. Ibadah itu ada empat macamnya, yaitu: shalat, zakat, puasa, dan haji ke Mekkah .
Ibadah secara etimologi bahasa Arab bermakna merendahkan diri dan tunduk. Asal makna ibadah adalah kerendahan diri .
2) Definisi dan Macam Ibadah menurut syara’ (Terminology)
Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah, memandang ibadah dengan pandangan yang lebih luas. yaitu, ia menguraikan makna ibadah sampai kepada unsur-unsurnya yang luas. Disamping maknanya yang asli menurut bahasa yaitu, sikap taat dan tunduk secara maksimal, ia juga mengungkapkan suatu unsur baru yang sangat penting perananya baik dalam islam maupun setiap agama. Unsur yang sangat dominan dalam mewujudkan ibadah sebagaimana yang diperintahkan Allah. yaitu unsur “Cinta”. Tanpa unsur emosi yang fithri ini, ibadah yang merupakan tujuan pokok bagi dijadikanya manusia, diutusnya para Rasul, dan diturunkanya Kitab-Kitab itu mustahil akan dapat diwujudkan .
Pendapat Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah memang bisa dibilang paling kompleks, dengan pandanganya yang luas bisa disimpulkan bahwa makna Ibadah adalah satu nama yang meliputi segala perbuatan dan perkataan yang Allah ta’ala cintai dan ridhoi, baik yang dzohir ataupun yang batin.

B. MACAM – MACAM IBADAH
Dari ulasan dan penjelasan dari Ibnu Taimiyah, singkat kata penulis bisa membagi ibadah terbagi menjadi tiga, yaitu: Ibadah hati, Ibadah lisan dan Ibadah anggota badan.
a. Ibadah Hati
Ibadah hati meliputi perkataan dan perbuatan hati. Perkataan hati adalah pembenaran dan keyakinan, seperti firman Allah:
           •        
“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Rabb mereka.Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik”. Azzumar: 33-34 .
Dan dalam hadits juga disebutkan pula, ibadah hati, yakni :
صلاة الرجل نور في قلبه فمن شاء منكم فلينور قلبه.
Rasulullah saw bersabda:“Shalat seseorang adalah cahaya di hatinya dan barangsiapa di antara kalian yang berkeinginan maka hendaknya ia menyinari hatinya dengan cahaya.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18973]
Sedangkan perbuatan hati berupa niat, ikhlash, cinta, ketundukan, tawakal dan yang sejenisnya. Allah berfirman:
                 
Artinya :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal.
Al Anfaal: 2 .
Dari beberapa hadits dan firman Allah diatas sudah sangatlah jelas kolerasi ibadah yang menjadi subyek adalah hati kita.
b. Ibadah lisan
Ibadah lisan meliputi perkataan dan perbuatan lisan. Perkataan lisan berupa mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan amalan lisan adalah amalan yang tidak dilakukan kecuali dengan lisan, seperti membaca Al Qur’an dan dzikir serta wirid. Allah ta’ala berfirman:
•                
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Faathir :29 .
c. Ibadah anggota tubuh
Ibadah anggota tubuh disini adalah amalan anggota tubuh selain lisan berupa amalan yang tidak dilakukan kecuali dengannya, seperti sujud, ruku’ dan lain-lainnya.
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan Daruqutni, yang artinya berbunyi:
“Dari Ali Bin Abi Thalib, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Orang sakit hendaklah shalat dengan berdiri jika mampu, apabila tidak mampu, maka shalatlah dengan duduk, jika tidak mampu sujud, maka isyaratkan dengan kepalannya tetapi sujudnya lebih rendah dari ruku’nya. Apabila tidak mampu shalat dengan duduk, maka shalat dengan berbaring (miring) mengahadao qiblat, jika tidak mampu dengan berbaring, maka shalatlah dengan menelentang, kedua kakinya kearah kibblat.”
Berdasarkan hadits diatas, maka dapat dikemukakan bahwa shalat latar belakangnya adalah salah satu ibadah itu dilakukan dengan anggota badan. Dan dari hadits diatas bisa dikemukakan bahwa cara bahwa cara mengerjakan shalat adalah berdiri jika mampu, jika tidak mampu maka dengan duduk, jika tetap / masih tidak mampu maka dengan berbaring dengan menghadap ke kiblat .
Ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa ibadah dibagi menjadi dua macam yakni:
1) Ibadah Maghdhah (Ibadah Khusus)
Yaitu ibadah yang ditentukan cara dan syaratnya secara detil dan biasanya bersifat ritus. Misalnya : Shalat, Zakat, Puasa, Haji, Qurban, Aqiqah. Ibadah jenis ini tidak banyak jumlahnya.
2) Ibadah Ghoiru Maghdhah
Yaitu ibadah dalam arti umum, segala perbuatan baik manusia. Ibadah ini tidak ditentukan cara dan syarat secara detil, diserahkan kepada manusia sendiri. Islam hanya memberi perintah/anjuran, dan prisnip-prinsip umum saja. Ibadah dalam arti umum misalnya : Menyantuni fakir-miskin, Mencari nafkah, Bertetangga, Bernegara, Tolong-menolong, dll.
Sesuatu akan bernilai ibadah, jika memenuhi persyaratan :
1) Iman kepada Allah dan Hari akhir. Karenanya amal orang kafir seperti fatamorgana.
2) Didasari niat ikhlas (murni) karena Allah, sebagaimana hadis:
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. dan bagi segala sesuatu tergantung dari apa yang ia niatkan”
3) Dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah.
Untuk ibadah maghdhah : harus sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Hadis, Kreativitas justru dilarang. Sehingga berlaku prinsip ” Segala ssesuatu dilarang, kecuali yang diperintahkan”. Kita dilarang membuat ritus-ritus baru yang tidak ada dasarnya.
Untuk mu’amalah: harus sesuai dengan jiwa dan prinsip prinsip ajaran Islam. Pelaksanaannya justru memerlukan kreativitas manusia. Sehingga berlaku prinsip
” Segala-sesuatu boleh, kecuali yang dilarang”
Ibadah pada dasarnya merupakan pembinaan diri menuju taqwa. Setiap upaya ibadah memiliki pengaruh positif terhadap keimanan, lawanya adalah maksyiat yang berpengaruh negatif terhadap keimanan.
“Iman bertambah dan berkurang. Bertambahnya iman dengan ibadah, berkurang karena ma’syiat (Hadits)” .
C. TUJUAN IBADAH
Kita mengetahui bahwa tugas pokok manusia didunia ini adalah beribadah (menyembah) Alla yang Maha Esa.
Kita juga tahu, bahwa pengertian ibadah itu ialah benar-benar tunduk yang disertai dengan penuh rasa cinta kepada Allah. Ibadah dalam islam itu meliputi seluruh persoalan keagamaan dan seluruh aspek hidup.
Tinggal satu yang sering dipertanyakan oleh sebagian orang, yaitu: mengapa kita harus menyembah Allah? atau dengan kata lain: mengapa Allah mewajibkan kita untuk menyembah-Nya dan taat kepada-Nya padahal Dia tidak butuh itu semua. Apakah tujuan sebenarnya kita diharuskan untuk menyembah itu? Apakah ibadah kita itu demi kepentingan Dia? Termasuj khusyu’ kita, berdiri kita di pintu-Nya, kepatuhan kita terhadap perintah-perintahNya dan jauh kita dari larangan-laranganNya?
dari ibadah kita itu kembali kepada kita sendiri sebagai makhluk ini? Apakah hakikat manfaat itu jika ada, ataukah tujuannya itu semata-mata perintah dan taat begitu saja?
Jawaban pertanyaan-pertanyaan itu adalah sebagai berikut:
- Ibadah seorang hamba itu tidak untuk kepentingan Allah.
- Betapapun hamba itu berpaling, maka tetap tidaj akan mengurangiwibawa Allah.
- Pujian orang itu tidak menambah kekuasaan Allah.
- Ingkarnya manusia itu tidak mengurangi kekuasaan Allah.
- Allah Maha kaya, kita maha memerlukan.
- Allah Dzat yang penuh kasih sayang dan pemurah.
- Dia baik dan penyayang, yang tidak akan menyuruh kita berbuat sesuatu melainkan didalamnya ada kebaikan dan kemasyalahatan kita sebagai makhluk ini, lebih – lebih hak Dia sebagai kewajiban apa saja yang Ia kehendaki.
- Ia memaksakan kita apa yang Dia mau, dengan hokum dan nikmat kepada kita.
- Dia menentukan peribadatan kiat yang mendasar itu adalah untuk Allah Swt.
- Tetapi Dia tidak akan memaksakan sesuatu kepada kita melainkan benar-benar bermanfaat buat kita dan maslahat buat kita yang memang kita sedang membutuhkanya dalam setiap pernafasan kita ini. Namun Dia sendiri sama sekali tidak membutuhkan kita, sebab bagaimana mungkin sebagai Pencipta (Al-Khaliq) membutuhkan kita yang notabennya adalah ciptaan-Nya (makhluk) .

D. KEUTAMAAN IBADAH
Ibadah di dalam syari’at Islam merupakan tujuan akhir yang dicintai dan diridhai-Nya. Karenanyalah Allah men-ciptakan manusia, mengutus para Rasul dan menurunkan Kitab-Kitab suci-Nya. Orang yang melaksanakannya di-puji dan yang enggan melaksanakannya dicela.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
    •  •    
“Artinya : Dan Rabb-mu berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, nis-caya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” [Al-Mu'min: 60]
Ibadah di dalam Islam tidak disyari’atkan untuk mem-persempit atau mempersulit manusia, dan tidak pula untuk menjatuhkan mereka di dalam kesulitan. Akan tetapi ibadah itu disyari’atkan untuk berbagai hikmah yang agung, kemashlahatan besar yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Pelaksanaan ibadah dalam Islam semua adalah mudah .
Keutamaan ibadah yang lain bahwasanya ibadah mensucikan jiwa dan membersihkannya, dan mengangkatnya ke derajat tertinggi menuju kesempurnaan manusiawi. Seperti yang tercantum dalam hadits dibawah ini bahwasanya shalat bisa mensyucikan jiwa:
قال النبي صلى الله عليه واله: مثل الصلوات الخمس كمثل نهر جار عذب على باب أحدكم يغتسل فيه كل يوم خمس مرات فما يبقى ذلك من الدنس.
Rasulullah saw bersabda:
“Perumpamaan shalat lima waktu adalah seperti sebuah sungai tawar yang mengalir di sisi pintu rumah salah seorang di antara kalian yang setiap harinya ia mandi lima kali, maka tidak tertinggal sedikitpun kotoran (di badannya, artinya barangsiapa yang sehari semalam mendirikan shalat lima waktu juga maka ia akan terbebas dari kotoran-kotoran jiwa dan ruh).” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18931]
Termasuk keutamaan ibadah juga bahwasanya manusia sangat membutuhkan ibadah / shalat melebihi segala-galanya, bahkan sangat darurat membutuhkannya. Karena manusia secara tabi’at adalah lemah, fakir (butuh) kepada Allah. Sebagaimana halnya jasad membutuhkan makanan dan minuman, demi-kian pula hati dan ruh memerlukan ibadah dan menghadap kepada Allah. Bahkan kebutuhan ruh manusia kepada ibadah itu lebih besar daripada kebutuhan jasadnya kepada makanan dan minuman, karena sesungguhnya esensi dan subtansi hamba itu adalah hati dan ruhnya, keduanya tidak akan baik kecuali dengan menghadap (bertawajjuh) kepada Allah dengan beribadah. Maka jiwa tidak akan pernah merasakan kedamaian dan ketenteraman kecuali dengan dzikir dan beribadah kepada Allah. Sekalipun seseorang merasakan kelezatan atau kebahagiaan selain dari Allah, maka kelezatan dan kebahagiaan tersebut adalah semu, tidak akan lama, bahkan apa yang ia rasakan itu sama sekali tidak ada kelezatan dan kebahagiaannya. Dan semua yang telah tertulis itu ada dasarnya yakni seperti hadits dibawah ini:
قال النبي صلى الله عليه واله: موضع الصلاة من الدين كموضع الرأس من الجسد.
Rasulullah saw bersabda:
“Kedudukan shalat dari agama adalah seperti kedudukan kepala dari badan.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18972]
Adapun bahagia karena Allah dan perasaan takut kepada-Nya, maka itulah kebahagiaan yang tidak akan terhenti dan tidak hilang, dan itulah kesempurnaan dan keindahan serta kebahagiaan yang hakiki. Maka, barangsiapa yang meng-hendaki kebahagiaan abadi hendaklah ia menekuni ibadah kepada Allah semata. Maka dari itu, hanya orang-orang ahli ibadah sejatilah yang merupakan manusia paling bahagia dan paling lapang dadanya.
Tidak ada yang dapat menenteramkan dan mendamaikan serta menjadikan seseorang merasakan kenikmatan hakiki yang ia lakukan kecuali ibadah kepada Allah semata. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak ada kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan dan kebaikan hati melainkan bila ia meyakini Allah sebagai Rabb, Pencipta Yang Maha Esa dan ia beribadah hanya kepada Allah saja, sebagai puncak tujuannya dan yang paling dicintainya daripada yang lain. Dan tercantum dalam sebuah hadits, yakni:

قال رسول الله صلي الله عليه و اله: خمس صلوات من حافظ عليهن كانت له نورا وبرهانا ونجاة يوم القيامة.
Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang menjaga shalat lima waktu maka ia akan memperoleh cahaya, burhan dan keselamatan pada hari kiamat kelak.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18862]
Keutamaan ibadah yang paling besar bahwasanya ibadah merupakan sebab utama untuk meraih keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, masuk Surga dan selamat dari siksa Neraka. Seperti yang tercantum dalam hadits:
قال الصادق (عليه السلام): أوّل ما يحاسب به العبد الصلاة، فإن قبلت قبل سائر علمه، وإذا ردّت ردّ عليه سائر عمله.
Imam Ja’far Shadiq as berkata:
“Hal pertama yang akan dihisab (diperhitungkan) dari seorang hamba adalah shalat, jika shalatnya diterima maka seluruh amalnya akan diterima dan jika shalatnya ditolak maka seluruh amalnya akan ditolak.” [Wasa’il Al-Syi’ah, jilid 3]

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Ibadah dilihat dari etimologi adalah Ibadah dari bahasa Arab bermakna merendahkan diri dan tunduk. Asal makna ibadah adalah kerendahan diri.
Sedangkan dilihat dari Terminologi arti ibadah yang ditinjau dari Pendapat Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah. pendapat ini memang bisa dibilang paling kompleks, dengan pandanganya yang luas bisa disimpulkan bahwa makna Ibadah adalah satu nama yang meliputi segala perbuatan dan perkataan yang Allah ta’ala cintai dan ridhoi, baik yang dzohir ataupun yang batin. Dan ibadah terbagi menjadi tiga, yaitu: Ibadah hati, Ibadah lisan dan Ibadah anggota badan.
Tujuan kita sebagai hamba beribadah adalah sebagai rasa patuh, tunduk dengan segala kerendahan hati kepada Allah Sang Khalik, meskipun Allah tidak membutuhkan persembahan kita tapi kita sebagai makhluk-Nya sudah diwajuibkan untuk senantiasa selalu beribadah kepadaNya, seperti dalam Firman-Nya yang artinya, “Dan kami tidak menciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepadaKu (Allah swt)”.

Sedangkan keutamaan beribadah adalah sangat banyak, yakni:
- Ibadah di dalam syari’at Islam merupakan tujuan akhir yang dicintai dan diridhai-Nya.
- Ibadah di dalam Islam tidak disyari’atkan untuk mem-persempit atau mempersulit manusia, dan tidak pula untuk menjatuhkan mereka di dalam kesulitan. Akan tetapi ibadah itu disyari’atkan untuk berbagai hikmah yang agung, kemashlahatan besar yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Pelaksanaan ibadah dalam Islam semua adalah mudah.
- Ibadah dapat mensucikan jiwa dan membersihkannya, dan mengangkatnya ke derajat tertinggi menuju kesempurnaan manusiawi.
- Bahwasanya manusia sangat membutuhkan ibadah / shalat melebihi segala-galanya, bahkan sangat darurat membutuhkannya. Karena manusia secara tabi’at adalah lemah, fakir (butuh) kepada Allah. Sebagaimana halnya jasad membutuhkan makanan dan minuman, demi-kian pula hati dan ruh memerlukan ibadah dan menghadap kepada Allah.
- Keutamaan ibadah yang paling besar bahwasanya ibadah merupakan sebab utama untuk meraih keridhaan Allah Swt, masuk Surga dan selamat dari siksa Neraka.

B. SARAN DAN KRITIK
Penyusun mengetahui betul bahwa buah karya yang dipergunakan untuk memenuhi tugas Hadits ini jauh dari sempurna, maka penulis sangat mengharapkan kritik atau saran dari para pembaca. kritik dan saran bagi penulis adalah sesuatu yang sangat berarti untuk menjadi yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qardlawi. Yusuf.1998.Ibadah Dalam Islam.Surabaya:PT Bina Ilmu
Slamet dan M.Suyono.1998.Fiqih Ibadah.Bandung:CV PUSTAKA SETIA
Taufiq. 2003.AlQuran in MS-Word ver 0.0.1
www.nurmadina.blogs.com
www.UstadKholid/Ibadah.htm
www.AbuAfif/MylitleNotes/Ibadah.htm

http://www.soni69.tripod.com/Islam/ibadah.htm

no comments yet.



Leave a comment

Names and email addresses are required (email addresses aren't displayed), url's are optional.

Comments may contain the following xhtml tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>